Showing posts with label Photografi. Show all posts

Ilmu Dasar Dalam Fotografi & Istilah-Istilah Penting

Wednesday, 20 November 2013
Posted by Unknown
Lensa prime (fixed)
lensa fix memiliki pembesaran gambar dan sudut pandang yang tidak dapat dirubah.. contohnya : lensa 14mm f/2,8 dan lensa 50mm f/1,4
lensa fix


Lensa zoom (vario)
ensa vario memiliki perbesaran gambar dan sudut pandang yang dapat dirubah tanpa harus mengganti lensa
contohnya :
lensa 18-70mm f/3,5-3,4
lensa 18-135mm f/3,5-5,6
lensa 70-200mm f/2,8

sedangkan lensa vario ini dibagi menjadi 3 menurut panjang fokus lensa, yaitu:
1. lensa sudut lebar (lensa wide)
memiliki focal length lensa antara tidak terbatas sampai 28mm,
(+) mengambil sudut pandang yang lebih luas , ruang tajam lebih luas
(-) Barrel distortion cukup tinggi, sehingga kurang cocok untuk pemotretan model, karena mengakibatkan bagian tubuh model seperti lebih besar..

2. Lensa Normal
memiliki focal length 35-70mm, memiliki sudut pandang +- sama dengan sudut pandang manusia (+- 45 derajat)
(+) tidak ada distorsi
(-) biasa saja (tidak istimewa)
lensa ini cocok untuk dokumentasi / foto bersama
3. Lensa Tele
Lensa ini memiliki focal length antara 80mm- tak terbatas lensa ini merupakan kebalikan dari lensa wide
(+) mendekatkan objek yang jauh
(-) ruang tajam lebih sempit, pinchusion distortion
lensa ini cocok untuk pemotretan model, olah raga, konser, paparazzi
lensa zoom

selain lensa2 diatas ,ada juga lensa khusus seperti berikut gan:
1. Lensa Makro
memiliki jarak fokus yang dekat. memiliki kemampuan perbesaran gambar lebih besar dari pada lensa2 lain. biasanya memiliki perbesaran 1:1 (contoh: benda dg tinggi 1cm akan terekam dengan tinggi 1cm juga pada sensor). Lensa ini dipakai untuk pemotretan benda2 kecil

2. Lensa PC (Perspective Correction)
Memiliki kemampuan untuk mengoreksi perspektif, biasa digunakan untuk pemotretan arsitektur
3. Lensa Fish eye
lensa ini memiliki sudut pandang 180 derajat dan biasanya panjang focal lenghtnya 16mm. lensa ini menghasilkan efek seperti mata ikan memandang (cembung)
Filter Lensa
1. filter wajib
filter UV: untuk menyaring sinar UV yang tidak kasat mata. fungsi lainnya untuk melindungi lensa dari debu, dsb

2. filter tambahan
- filter ND (neutral Density) Gradual, Non-Gradual, Half
Gradual: filter ND yang setengah bagiannya lebih gelap dg gradasi
Non-Gradual : Filter ND yang semua bagiannya lebih gelap
Half: filter ND yang setengah bagiannya gelap tanpa Gradasi.
- filter CPL (Circural Polarizer)
fungsinya:
1.membuat langit biru lebih gelap
2. mampu mengurangi pantulan cahaya berlebih dari permukaan yang memantul seperti kaca, plastik, atau air
3. meningkatkan saturasi (ketajaman warna)
4. menurunkan density
filter

perbedaan foto sebelum dan setelah menggunakan filter ND

perbedaan foto sebelum dan sesudah menggunakan filter CPL

Ruang Tajam (Depth of Field)
1. Bukaan Diafragma
semakin kecil bukaan yang digunakan, maka semakin luas ruang tajam yang dihasilkan dan sebaliknya, makin besar bukaan diafragma yang digunakan, maka semakin sempit ruang tajamnya

2. Focal Length Lensa
semakin panjang focal length lensa yang digunakan makan semakin sempit ruang tajamnya. begitu juga sebaliknya.
3. Jarak Pemotretan
semakin jauh jarak pemotretan antara objek dan kamera maka ruang tajam akan semakin luas, sabaliknya jika jarak pemotretan semakin dekat maka ruang tajam akan semakin sempit
4. Besar Ukuran Fisik Sensor
Semakin besar ukuran fisik sensor, maka semakin sempit ruang tajamnya. (hal ini menjelaskan mengapa lebih sulit untuk mendapatkan ruang tajam yang sempit pada kamera2 ‘pocket’, lebih mudah pada kamera DSLR dengan crop factor, dan paling mudah pada DSLR full frame atau kamera fil analog)
paling kiri atas bukaan diafragma paling besar paling kanan bukaan diafragma paling kecil
paling kiri bawah ruang tajam paling sempit paling kanan ruang tajam paling luas

Exposure, Shutter speed, ISO
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan pencahayaan (exposure) yang cukup bagi sebuah foto, yaitu:
Aperture/diafragma (f), Shutter speed (t), ASA/ISO

1. Aperture/ diafragma
diafragma merupakan lubang yang terdapat di dalam lensa. Fungsinya adalah mengatur besar kecilnya intensitas cahaya yang masuk melauli lensa. dalam hal ini diafragma bekerja sama dengan shutter speed (t). diafragma bisa digambarkan seperti jendela atau keran air, dimana makin besar lubang, makin banyak cahaya yang masuk.
2. Shutter Speed
Shutter Speed/kecepatan Rana untuk mengatur lamanya cahaya yang masuk melalui difragma lensa. Disamping berfungsi mendapatkan exposure yang tepat, shutter speed juag berfungsi untuk mendapatkan efek gerak (blurring panning, zooming). kecepatan dinyatakan dalam satuan 1/detik.
3. ISO/ASA
ISO(International Standard Organization) atau dlu disebut ASA (American Standard Association) merupakan ukuran kepekaan suatu film atau sensor digital (CCD-Charged Coupled Devices)/(CMOS-Complimentary Metal Oxide Semiconductor) terhadap cahaya. ISO juga mempengaruhi grain atau butiran2 pixel pada foto, semakin besar ISO ,maka makin besar butiran2/grain.
Suhu Warna
Cara mata manusia dalam mempersepsikan warna tidak sama dengan kamera. Perbedaan hasil antara apa yang dilihat oleh mata dan kamera berhubungan dengan suhu warna yang dipancarkan oleh sumber cahya. ada 3 macam suhu warna yang biasanya kita temui, yaitu :
Tungsten , Daylight, dan Fluorescent

Perbedaannya
1. Tungsten
dengan sumber cahaya Tungsten hasil foto kekuning2an – kemerah2an
2. Daylight
hasil foto akan normal seperti apa yang tampak
3. Flourescent
hasil foto akan kebiru kehijauan
makin tinggi suhu cahaya warna yang dipancarkan maka hasil fotonya akan semakin kebiruan. semakin rendah suhu warna cahaya, akan semakin kemerahan hasil fotonya.
Light Meter
alat yang berfungsi untuk mengukur pencahayaan yang diperlukan untuk pemotretan, atau bisa juga disebut exposure meter.
pada light meter terdapat beberapa pola pengukuran, antara lain:
1. Spot Metering
pengukuran hanya dilakukan pada titik tertentu. wilayah pengukuran lebih sempit sehingga diigunakan untuk mengukur cahara secara detil.
2. Centereweighted metering
sensitivitas light meter dipusatkan di tengah2 bidang pandang pada view finder. bidang pengukuran sedikit lebih luas dibandingkan dengan pola pengukuran spot matering.
3. Multipattern/multisegmented metering
pengukuran dilakukan dengan mengambil nilai rata2 dari cahaya yang ada
M, A , S , P pada kamera
M – Manual
f,t, dan ISO diatur sesuai keinginan fotografer. tetapi bila Flash digunakan, maka flash akan tetap otomatis, kecuali agan mengaturnya secara manual.

A- Aparture Priority
fotografer mengatur f, maka t mengikuti secara otomatis
S – Shutter Priority
Fotografer mengatur Shutter Speed maka f mengikuti
P – Mirip dengan fungsi auto
bedanya kamera mengatur f dan t; tapi fotografer dapat mengubah keduanya sesuai dg interval yang disediakan kamera dan juga fotografer masi bisa mengatur parameter lain (seperti ISO, WB,dll)
Modus Otomatis
kamera menetukan f, t, dan ISO secara otomatis. sebagian besar kamera akan mengaktifkan flash secara otomatis ketika tingkat pencahayaan begitu rendah, tidak peduli situasi pemotretan yang dihadapi.

PRINSIP KERJA KAMERA OBSCURA

Tuesday, 19 November 2013
Posted by Unknown


Kamera Obscura atau dikenal juga sebagai prinsip kamera pertama kali ditemukan oleh Ibn al-Haytham. Ilmuwan kelahiran Basra, Irak dalam bukunya menyebut, Book of Optics, pemakaian lubang jarum dan lensa dalam di dinding ruangan gelap untuk memproyeksikan apa yang ada di luar ke dalam ruangan dengan gambar terbalik.Obscura sendiri dalam bahasa latin berarti ruangan gelap. Meski prinsip
kamera sudah ditemukan pada waktu itu tetapi hasilnya belum bisa dicetak seperti pada saat ini.

Pada tahun 1660, seorang ilmuwan Inggris, Robert Boyle dibantu oleh Robert Hooke berhasil menciptakan kamera obscura jinjing lebih kecil dari kamera Obscura ciptaan Al-Haytham yang berukuran besar.

Pada tahun 1685, Johann Zahn menyempurnakan kamera obscura menjadi lebih kecil dan mudah dibawa. Selain itu juga memanfaatkan cermin dan lensa untuk menfokuskan gambar.

Perkembangan kamera semakin berarti setelah Joseph Nicephore Niepce pada tahun 1814 mencoba mencetak pada sebuah lempengan pewter (logam lunak campuran) dengan bitumen (semacam aspal). Saat terkena cahaya bitumen akan mengeras. Bagian yang tidak mengeras kemudian dilarutkan. Bagian inilah yang menjadi cikal bakal foto.

Pada tahun 1836, Louis Jacques Daguerre menyempurnakan proses cetak foto. Ia membuat lempengan tembaga menjadi lebih sensitif terhadap cahaya. Proses itu dinamakan daguerreotype.


Pada tahun 1840 William Fox Talbot menyempurnakan proses cetak foto yang dikenal dengan Calotype. Baik Daguerre maupun Talbot menggunakan kamera yang sedikit berbeda dari kamera Zahn. Mereka memakai lempengan logam atau lembaran kertas yang diletakkan di depan layar bidik, merekam gambar, dan menggeser lensa untuk menfokuskan gambar.

Era lempengan basah sebagai media rekam gambar kemudian disempurnakan dengan ditemukannya lempeng kering collodion pada tahun 1885 oleh Desire Van Monckhoven. 

Kemajuan dunia fotografi makin sempurna dengan temuan Richard Leach Maddox yang menggunakan gelatin kering pada tahun 1871. Lempengan kering ini lebih cepat dan lebih bagus hasil cetakannya dibandingkan dengan lempengan basah. Pada era ini, untuk pertama kalinya kamera bisa dibuat dalam ukuran genggam dan dapat disimpan di dalam tas. Sejak itu berbagai desain kamera muncul, ada single atau twin-lens reflexes, kamera berukuran besar, kamera saku, hingga kamera yang bisa disatukan dengan arloji, topi dan sebagainya.

Setelah era Pelat, dunia fotografi semakin menyenangkan sejak ditemukan film topografik oleh George Eastman. Tahun 1885, Film fotografik masih menggunakan lembaran kertas, pada tahun yang sama berkembang lagi teknologi fotografi dengan film.

Eastman menciptakan kotak kamera dengan film seluloid yang bisa menampung 100 frame foto. Kamera berbentuk kotak dengan single focus dan single shutter ini dinamakan kodak. Kamera brownie karya Eastman sangat populer hingga tahun 1960-an. Industri kamera makin ramai sejak Jepang ikut memproduksi kamera dengan film 35 mm yang bermerk Canon 1936.

Sekitar tahun 1913, Oskar Barnack menggunakan film dengan ukuran 35 mm dan mengembangkan kamera berukuran kompak (kecil). Film ukuran 35 mm mendominasi pemakaian film kamera hingga era kamera digital.

Selain kamera yang memakai film, muncul juga kamera instan. Hasil fotonya bisa dilihat sesaat setelah pemotretan tanpa melalui proses pencucian dan pencetakan film. Kamera instan pertama kali dipopulerkan oleh polaroid dengan model 95. Kamera ini juga disebut kamera land karena diciptakan oleh Edwin Land.

Era analog mulai ditinggalkan dan digantikan dengan era kamera digital. Perbedaan antara kamera analog dan kamera digital adalah bahwa kamera digital tidak memerlukan film. Gambar yang direkam disimpan ke dalam kartu memori atau tempat penyimpanan pada kamera tersebut. Selain untuk membuat foto, kamera digital juga bisa untuk membuat video. Tentu saja hal ini membuat kamera analog tersingkir.

Selain pengoperasian lebih mudah, harga murah, proses lebih cepat, jangkauan juga lebar. Kamera digital semakin populer ketika menjadi fitur wajib di telepon selular dan hasil fotonya bisa langsung diunggah ke situs jejaring sosial dsb.
  

Pengenalan Photografi

Wednesday, 16 October 2013
Posted by Unknown

Teknik-teknik photografi

Yang sering menjadi kendala utama fotografer pemula adalah kendala teknis. Banyak yang tidak mengetahui dasar dan tidak mengenal kameranya dengan baik. Saya pikir ini penting sekali untuk diatasi sebelum melangkah lebih jauh. Dengan menguasai aspek teknis, kita bisa membuat foto yang kita inginkan.

EXPOSURE / PENCAHAYAAN

Maksud photografi adalah pencahayaan, maka itu sangat penting kita memahami hal ini. Ada 3 faktor utama yang menentukan pencahayaan yaitu bukaan (aperture), kepantasan rana (shutter speed) dan sensitivitas sensor (ISO).

Jenis mode kamera yang bisa dipilih
Jenis mode kamera
Berkaitan erat dengan pencahayaan, pertanyaan yang selalu aku dapat adalah mode kamera apa yang aku harus pakai. Bagi yang memahami prinsip pencahayaan, tentunya lebih cenderung memakai Manual (M), Aperture Priority (A/Av) atau Shutter Priority (S/Tv).
Lalu bagaimana dengan Auto mode, atau Program (P) mode atau scene modes seperti landscape mode (yang gambarnya seperti gunung) atau portrait mode (yang gambar wajah orang dari samping)? Adakah boleh memakai mode itu? Boleh saja kalau belum memahami pencahayaan, tapi bila telah memahami, automatik kita tidak perlu lagi menggunakan mode tersebut.
Aku sendiri pun suka pakai Aperture Priority, kerana aku boleh fokus supaya kelihatan kabur di latar belakang gambar kita.
Mempelajari pencahayaan ibaratnya seperti belajar membawa kereta atau berenang. Pertama kali kita cuba,memang merasa sukar, tapi kalau sudah memahami serta praktikkan apa yang kita paham itu,InsyaAllah, segalanya akan menjadi lebih mudah. Setelah memahami hal ini, hasil gambar akan lebih konsisten.

EXPOSURE COMPENSATION / KOMPENSASI

Histogram: Kalau kurva berwarna hitamnya banyak menumpuk di sebelah kanan seperti ilustrasi di atas. Ini menandakan pencahayaannya terlalu berlebihan
Histogram: Kalau kurva berwarna hitamnya banyak menumpuk di sebelah kanan seperti ilustrasi di atas. Ini menandakan cahaya bergitu terang.
Masih berkaitan dengan pencahayaan, hal yang perlu diperhatikan terutama photografi digital adalah menghindari dari cahaya yang berlebihan sehingga gambar menjadi terlalu terang kerana akan banyak detail yang hilang dan tidak boleh muncul kembali. Untuk melihat apakah gambar kita itu terlalu terang, kita boleh lihat di LCD DSLR atau histogram.
Selain itu, seringkali kita melihat di depan kita terdapat lebih banyak warna gelap daripada terang sehingga gambar menjadi lebih terang. Oleh itu, kita boleh menggunakan fungsi kompensasi pencahayaan.
Nilai kompensasi tergantung pada pandangan kita iaitu jenis pengukur cahaya /metering yang aktif dan jenis kamera.Bagi pendapat aku,kita cuba saja sampai menemukan pencahayaan yang optimal.
Dalam foto ini, kompensasi pencahayaan diperlukan karena sebagian besar area di dalam foto berwarna gelap. Bila tidak, wajah akan terlalu terang dan jubah akan berwarna abu-abu. Data Teknis: Av mode, 200mm, f/4, 1/320 detik, ISO 200, EC -1
Dalam gambar ini, kompensasi pencahayaan diperlukan kerana sebagian besar area di dalam gambar berwarna gelap. Kalau tidak, wajah akan kelihatan terang dan jubah akan berwarna abu-abu. Data Teknik: Av mode, f/4, 1/320 detik, ISO 200, EC -1

MENCEGAH gambar KABUR / GOYANG

Dua faktor gambar kabur atau goyang kerana salah fokus atau shutter speed kurang tinggi. Untuk masalah auto fokus, jangan merendahkan setting automatic focus, tapi pilihlah titik fokus tertentu. Bila subjek bergerak, maka gunakanlah continuous AF sehingga auto focus boleh mengikuti subjek.
Untuk memastikan fokusnya benar-benar telah terkunci, kita akan terdengar bunyi “beep” atau lihat konfirmasi AF yang biasanya berbentuk bulatan atau kotak hijau di dalam jendela bidik / viewfinder.
Berkenaan dengan masalah shutter speed, untuk gambar subjek yang bergerak,kita perlu shutter speed yang cukup tinggi. Contoh: minimal 1/125 untuk gambar orang berjalan. Kalau lebih rendah, gambar akan kelihatan kabur.

Foto #2
Gambar #2
Keterangan gambar #2: Untuk membekukan gambar si penari, aku menggunakan setting AF-C (Nikon) / Ai Servo (Canon) supaya auto fokusnya tetap terkunci pada si penari tersebut walaupun si penari itu bergerak dengan cepat. Lalu aku juga menggunakan shutter speed yang cukup tinggi. Aku juga menggunakan komposisi ekposur untuk mengkomponsasikan latar belakang yang hitam pekat. Data Teknik: Aperture priority (Av) mode f/4, 1/200 detik, EC -1 1/3, AF-C, ISO 1250, 70mm.

DEPTH OF FIELD / KEDALAMAN FOKUS

Kedalaman fokus yang tipis membuat subjek lebih menonjol dan latar belakang menjadi blur sehingga berkesan artistik.
Di foto ini, saya mengunakan bukaan sangat besar, yaitu f/1.4 sehingga depth of field sangat tipis, latar belakang menjadi sangat mulus, bahkan sebagian besar rambut juga udah kabur. Selain itu, lensa yang saya pakai juga cukup tele. Data Teknis: f/1.4,  85mm, 1/1600 detik ISO 200
Di gambar ini, aku menggunakan bukaan sangat besar, yaitu f/1.4 sehingga depth of field sangat tipis, latar belakang menjadi sangat halus, bahkan sebahagian besar rambut juga menjadi kabur. Selain itu, lensa yang aku pakai juga cukup tajam atau halus. Data Teknik: f/1.4, 85mm, 1/1600 detik ISO 200

WHITE BALANCE

wb-white-balance
Contoh beberapa preset White Balance
Tips terakhir untuk artikel ini adalah menentukan setting WB / White balance yang tepat dengan keadaan atau hasil yang ingin dicapai. Memang bagi setiap kamera biasanya telah ada AWB atau Auto White Balance, tapi sekali lagi, AWB sering kali tidak menerjemahkan keadaan dengan baik atau tidak memahami keinginan kita.
Misalnya bila keadaan cahaya di lapangan mendung, maka pilihlah WB cloudy (yang bergambar seperti awan). Kalau di bawah bayangan, pilih Shade dan seterusnya. Kalau di dalam ruangan yang lampunya kuning, maka pakailah WB tungsten (yang gambarnya seperti bola lampu).
Bila ingin gambar kelihatan lebih hangat (kekuningan/jingga), maka set WB ke cloudy atau shade. Bila ingin gambar kelihatan lebih dingin / kebiruan, maka pilihlah WB tungsten.

Welcome to My Blog

Popular Post

Powered by Blogger.

- Copyright © NOBREH -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -