Showing posts with label Photografi. Show all posts
Ilmu Dasar Dalam Fotografi & Istilah-Istilah Penting
Wednesday, 20 November 2013
Posted by Unknown
Tag :
informasi,
Photografi
Lensa prime (fixed)
lensa fix memiliki pembesaran gambar dan sudut pandang yang tidak dapat dirubah.. contohnya : lensa 14mm f/2,8 dan lensa 50mm f/1,4
lensa fix

Lensa zoom (vario)
ensa vario memiliki perbesaran gambar dan sudut pandang yang dapat dirubah tanpa harus mengganti lensa
contohnya :
lensa 18-70mm f/3,5-3,4
lensa 18-135mm f/3,5-5,6
lensa 70-200mm f/2,8
sedangkan lensa vario ini dibagi menjadi 3 menurut panjang fokus lensa, yaitu:
1. lensa sudut lebar (lensa wide)
memiliki focal length lensa antara tidak terbatas sampai 28mm,
(+) mengambil sudut pandang yang lebih luas , ruang tajam lebih luas
(-) Barrel distortion cukup tinggi, sehingga kurang cocok untuk pemotretan model, karena mengakibatkan bagian tubuh model seperti lebih besar..
2. Lensa Normal
memiliki focal length 35-70mm, memiliki sudut pandang +- sama dengan sudut pandang manusia (+- 45 derajat)
(+) tidak ada distorsi
(-) biasa saja (tidak istimewa)
lensa ini cocok untuk dokumentasi / foto bersama
3. Lensa Tele
Lensa ini memiliki focal length antara 80mm- tak terbatas lensa ini merupakan kebalikan dari lensa wide
(+) mendekatkan objek yang jauh
(-) ruang tajam lebih sempit, pinchusion distortion
lensa ini cocok untuk pemotretan model, olah raga, konser, paparazzi
lensa zoom

selain lensa2 diatas ,ada juga lensa khusus seperti berikut gan:
1. Lensa Makro
memiliki jarak fokus yang dekat. memiliki kemampuan perbesaran gambar lebih besar dari pada lensa2 lain. biasanya memiliki perbesaran 1:1 (contoh: benda dg tinggi 1cm akan terekam dengan tinggi 1cm juga pada sensor). Lensa ini dipakai untuk pemotretan benda2 kecil
2. Lensa PC (Perspective Correction)
Memiliki kemampuan untuk mengoreksi perspektif, biasa digunakan untuk pemotretan arsitektur
3. Lensa Fish eye
lensa ini memiliki sudut pandang 180 derajat dan biasanya panjang focal lenghtnya 16mm. lensa ini menghasilkan efek seperti mata ikan memandang (cembung)
Filter Lensa
1. filter wajib
filter UV: untuk menyaring sinar UV yang tidak kasat mata. fungsi lainnya untuk melindungi lensa dari debu, dsb
2. filter tambahan
- filter ND (neutral Density) Gradual, Non-Gradual, Half
Gradual: filter ND yang setengah bagiannya lebih gelap dg gradasi
Non-Gradual : Filter ND yang semua bagiannya lebih gelap
Half: filter ND yang setengah bagiannya gelap tanpa Gradasi.
- filter CPL (Circural Polarizer)
fungsinya:
1.membuat langit biru lebih gelap
2. mampu mengurangi pantulan cahaya berlebih dari permukaan yang memantul seperti kaca, plastik, atau air
3. meningkatkan saturasi (ketajaman warna)
4. menurunkan density
filter

perbedaan foto sebelum dan setelah menggunakan filter ND

perbedaan foto sebelum dan sesudah menggunakan filter CPL

Ruang Tajam (Depth of Field)
1. Bukaan Diafragma
semakin kecil bukaan yang digunakan, maka semakin luas ruang tajam yang dihasilkan dan sebaliknya, makin besar bukaan diafragma yang digunakan, maka semakin sempit ruang tajamnya
2. Focal Length Lensa
semakin panjang focal length lensa yang digunakan makan semakin sempit ruang tajamnya. begitu juga sebaliknya.
3. Jarak Pemotretan
semakin jauh jarak pemotretan antara objek dan kamera maka ruang tajam akan semakin luas, sabaliknya jika jarak pemotretan semakin dekat maka ruang tajam akan semakin sempit
4. Besar Ukuran Fisik Sensor
Semakin besar ukuran fisik sensor, maka semakin sempit ruang tajamnya. (hal ini menjelaskan mengapa lebih sulit untuk mendapatkan ruang tajam yang sempit pada kamera2 ‘pocket’, lebih mudah pada kamera DSLR dengan crop factor, dan paling mudah pada DSLR full frame atau kamera fil analog)
paling kiri atas bukaan diafragma paling besar paling kanan bukaan diafragma paling kecil
paling kiri bawah ruang tajam paling sempit paling kanan ruang tajam paling luas

Exposure, Shutter speed, ISO
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan pencahayaan (exposure) yang cukup bagi sebuah foto, yaitu:
Aperture/diafragma (f), Shutter speed (t), ASA/ISO
1. Aperture/ diafragma
diafragma merupakan lubang yang terdapat di dalam lensa. Fungsinya adalah mengatur besar kecilnya intensitas cahaya yang masuk melauli lensa. dalam hal ini diafragma bekerja sama dengan shutter speed (t). diafragma bisa digambarkan seperti jendela atau keran air, dimana makin besar lubang, makin banyak cahaya yang masuk.
2. Shutter Speed
Shutter Speed/kecepatan Rana untuk mengatur lamanya cahaya yang masuk melalui difragma lensa. Disamping berfungsi mendapatkan exposure yang tepat, shutter speed juag berfungsi untuk mendapatkan efek gerak (blurring panning, zooming). kecepatan dinyatakan dalam satuan 1/detik.
3. ISO/ASA
ISO(International Standard Organization) atau dlu disebut ASA (American Standard Association) merupakan ukuran kepekaan suatu film atau sensor digital (CCD-Charged Coupled Devices)/(CMOS-Complimentary Metal Oxide Semiconductor) terhadap cahaya. ISO juga mempengaruhi grain atau butiran2 pixel pada foto, semakin besar ISO ,maka makin besar butiran2/grain.
Suhu Warna
Cara mata manusia dalam mempersepsikan warna tidak sama dengan kamera. Perbedaan hasil antara apa yang dilihat oleh mata dan kamera berhubungan dengan suhu warna yang dipancarkan oleh sumber cahya. ada 3 macam suhu warna yang biasanya kita temui, yaitu :
Tungsten , Daylight, dan Fluorescent
Perbedaannya
1. Tungsten
dengan sumber cahaya Tungsten hasil foto kekuning2an – kemerah2an
2. Daylight
hasil foto akan normal seperti apa yang tampak
3. Flourescent
hasil foto akan kebiru kehijauan
makin tinggi suhu cahaya warna yang dipancarkan maka hasil fotonya akan semakin kebiruan. semakin rendah suhu warna cahaya, akan semakin kemerahan hasil fotonya.
Light Meter
alat yang berfungsi untuk mengukur pencahayaan yang diperlukan untuk pemotretan, atau bisa juga disebut exposure meter.
pada light meter terdapat beberapa pola pengukuran, antara lain:
1. Spot Metering
pengukuran hanya dilakukan pada titik tertentu. wilayah pengukuran lebih sempit sehingga diigunakan untuk mengukur cahara secara detil.
2. Centereweighted metering
sensitivitas light meter dipusatkan di tengah2 bidang pandang pada view finder. bidang pengukuran sedikit lebih luas dibandingkan dengan pola pengukuran spot matering.
3. Multipattern/multisegmented metering
pengukuran dilakukan dengan mengambil nilai rata2 dari cahaya yang ada
M, A , S , P pada kamera
M – Manual
f,t, dan ISO diatur sesuai keinginan fotografer. tetapi bila Flash digunakan, maka flash akan tetap otomatis, kecuali agan mengaturnya secara manual.
A- Aparture Priority
fotografer mengatur f, maka t mengikuti secara otomatis
S – Shutter Priority
Fotografer mengatur Shutter Speed maka f mengikuti
P – Mirip dengan fungsi auto
bedanya kamera mengatur f dan t; tapi fotografer dapat mengubah keduanya sesuai dg interval yang disediakan kamera dan juga fotografer masi bisa mengatur parameter lain (seperti ISO, WB,dll)
Modus Otomatis
kamera menetukan f, t, dan ISO secara otomatis. sebagian besar kamera akan mengaktifkan flash secara otomatis ketika tingkat pencahayaan begitu rendah, tidak peduli situasi pemotretan yang dihadapi.
lensa fix memiliki pembesaran gambar dan sudut pandang yang tidak dapat dirubah.. contohnya : lensa 14mm f/2,8 dan lensa 50mm f/1,4
lensa fix
Lensa zoom (vario)
ensa vario memiliki perbesaran gambar dan sudut pandang yang dapat dirubah tanpa harus mengganti lensa
contohnya :
lensa 18-70mm f/3,5-3,4
lensa 18-135mm f/3,5-5,6
lensa 70-200mm f/2,8
sedangkan lensa vario ini dibagi menjadi 3 menurut panjang fokus lensa, yaitu:
1. lensa sudut lebar (lensa wide)
memiliki focal length lensa antara tidak terbatas sampai 28mm,
(+) mengambil sudut pandang yang lebih luas , ruang tajam lebih luas
(-) Barrel distortion cukup tinggi, sehingga kurang cocok untuk pemotretan model, karena mengakibatkan bagian tubuh model seperti lebih besar..
2. Lensa Normal
memiliki focal length 35-70mm, memiliki sudut pandang +- sama dengan sudut pandang manusia (+- 45 derajat)
(+) tidak ada distorsi
(-) biasa saja (tidak istimewa)
lensa ini cocok untuk dokumentasi / foto bersama
3. Lensa Tele
Lensa ini memiliki focal length antara 80mm- tak terbatas lensa ini merupakan kebalikan dari lensa wide
(+) mendekatkan objek yang jauh
(-) ruang tajam lebih sempit, pinchusion distortion
lensa ini cocok untuk pemotretan model, olah raga, konser, paparazzi
lensa zoom
selain lensa2 diatas ,ada juga lensa khusus seperti berikut gan:
1. Lensa Makro
memiliki jarak fokus yang dekat. memiliki kemampuan perbesaran gambar lebih besar dari pada lensa2 lain. biasanya memiliki perbesaran 1:1 (contoh: benda dg tinggi 1cm akan terekam dengan tinggi 1cm juga pada sensor). Lensa ini dipakai untuk pemotretan benda2 kecil
2. Lensa PC (Perspective Correction)
Memiliki kemampuan untuk mengoreksi perspektif, biasa digunakan untuk pemotretan arsitektur
3. Lensa Fish eye
lensa ini memiliki sudut pandang 180 derajat dan biasanya panjang focal lenghtnya 16mm. lensa ini menghasilkan efek seperti mata ikan memandang (cembung)
Filter Lensa
1. filter wajib
filter UV: untuk menyaring sinar UV yang tidak kasat mata. fungsi lainnya untuk melindungi lensa dari debu, dsb
2. filter tambahan
- filter ND (neutral Density) Gradual, Non-Gradual, Half
Gradual: filter ND yang setengah bagiannya lebih gelap dg gradasi
Non-Gradual : Filter ND yang semua bagiannya lebih gelap
Half: filter ND yang setengah bagiannya gelap tanpa Gradasi.
- filter CPL (Circural Polarizer)
fungsinya:
1.membuat langit biru lebih gelap
2. mampu mengurangi pantulan cahaya berlebih dari permukaan yang memantul seperti kaca, plastik, atau air
3. meningkatkan saturasi (ketajaman warna)
4. menurunkan density
filter
perbedaan foto sebelum dan setelah menggunakan filter ND
perbedaan foto sebelum dan sesudah menggunakan filter CPL
Ruang Tajam (Depth of Field)
1. Bukaan Diafragma
semakin kecil bukaan yang digunakan, maka semakin luas ruang tajam yang dihasilkan dan sebaliknya, makin besar bukaan diafragma yang digunakan, maka semakin sempit ruang tajamnya
2. Focal Length Lensa
semakin panjang focal length lensa yang digunakan makan semakin sempit ruang tajamnya. begitu juga sebaliknya.
3. Jarak Pemotretan
semakin jauh jarak pemotretan antara objek dan kamera maka ruang tajam akan semakin luas, sabaliknya jika jarak pemotretan semakin dekat maka ruang tajam akan semakin sempit
4. Besar Ukuran Fisik Sensor
Semakin besar ukuran fisik sensor, maka semakin sempit ruang tajamnya. (hal ini menjelaskan mengapa lebih sulit untuk mendapatkan ruang tajam yang sempit pada kamera2 ‘pocket’, lebih mudah pada kamera DSLR dengan crop factor, dan paling mudah pada DSLR full frame atau kamera fil analog)
paling kiri atas bukaan diafragma paling besar paling kanan bukaan diafragma paling kecil
paling kiri bawah ruang tajam paling sempit paling kanan ruang tajam paling luas
Exposure, Shutter speed, ISO
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan pencahayaan (exposure) yang cukup bagi sebuah foto, yaitu:
Aperture/diafragma (f), Shutter speed (t), ASA/ISO
1. Aperture/ diafragma
diafragma merupakan lubang yang terdapat di dalam lensa. Fungsinya adalah mengatur besar kecilnya intensitas cahaya yang masuk melauli lensa. dalam hal ini diafragma bekerja sama dengan shutter speed (t). diafragma bisa digambarkan seperti jendela atau keran air, dimana makin besar lubang, makin banyak cahaya yang masuk.
2. Shutter Speed
Shutter Speed/kecepatan Rana untuk mengatur lamanya cahaya yang masuk melalui difragma lensa. Disamping berfungsi mendapatkan exposure yang tepat, shutter speed juag berfungsi untuk mendapatkan efek gerak (blurring panning, zooming). kecepatan dinyatakan dalam satuan 1/detik.
3. ISO/ASA
ISO(International Standard Organization) atau dlu disebut ASA (American Standard Association) merupakan ukuran kepekaan suatu film atau sensor digital (CCD-Charged Coupled Devices)/(CMOS-Complimentary Metal Oxide Semiconductor) terhadap cahaya. ISO juga mempengaruhi grain atau butiran2 pixel pada foto, semakin besar ISO ,maka makin besar butiran2/grain.
Suhu Warna
Cara mata manusia dalam mempersepsikan warna tidak sama dengan kamera. Perbedaan hasil antara apa yang dilihat oleh mata dan kamera berhubungan dengan suhu warna yang dipancarkan oleh sumber cahya. ada 3 macam suhu warna yang biasanya kita temui, yaitu :
Tungsten , Daylight, dan Fluorescent
Perbedaannya
1. Tungsten
dengan sumber cahaya Tungsten hasil foto kekuning2an – kemerah2an
2. Daylight
hasil foto akan normal seperti apa yang tampak
3. Flourescent
hasil foto akan kebiru kehijauan
makin tinggi suhu cahaya warna yang dipancarkan maka hasil fotonya akan semakin kebiruan. semakin rendah suhu warna cahaya, akan semakin kemerahan hasil fotonya.
Light Meter
alat yang berfungsi untuk mengukur pencahayaan yang diperlukan untuk pemotretan, atau bisa juga disebut exposure meter.
pada light meter terdapat beberapa pola pengukuran, antara lain:
1. Spot Metering
pengukuran hanya dilakukan pada titik tertentu. wilayah pengukuran lebih sempit sehingga diigunakan untuk mengukur cahara secara detil.
2. Centereweighted metering
sensitivitas light meter dipusatkan di tengah2 bidang pandang pada view finder. bidang pengukuran sedikit lebih luas dibandingkan dengan pola pengukuran spot matering.
3. Multipattern/multisegmented metering
pengukuran dilakukan dengan mengambil nilai rata2 dari cahaya yang ada
M, A , S , P pada kamera
M – Manual
f,t, dan ISO diatur sesuai keinginan fotografer. tetapi bila Flash digunakan, maka flash akan tetap otomatis, kecuali agan mengaturnya secara manual.
A- Aparture Priority
fotografer mengatur f, maka t mengikuti secara otomatis
S – Shutter Priority
Fotografer mengatur Shutter Speed maka f mengikuti
P – Mirip dengan fungsi auto
bedanya kamera mengatur f dan t; tapi fotografer dapat mengubah keduanya sesuai dg interval yang disediakan kamera dan juga fotografer masi bisa mengatur parameter lain (seperti ISO, WB,dll)
Modus Otomatis
kamera menetukan f, t, dan ISO secara otomatis. sebagian besar kamera akan mengaktifkan flash secara otomatis ketika tingkat pencahayaan begitu rendah, tidak peduli situasi pemotretan yang dihadapi.
PRINSIP KERJA KAMERA OBSCURA
Tuesday, 19 November 2013
Posted by Unknown
Tag :
informasi,
Photografi
Kamera Obscura atau dikenal juga sebagai prinsip kamera
pertama kali ditemukan oleh Ibn al-Haytham. Ilmuwan kelahiran Basra, Irak dalam
bukunya menyebut, Book of Optics, pemakaian lubang jarum dan lensa dalam di
dinding ruangan gelap untuk memproyeksikan apa yang ada di luar ke dalam
ruangan dengan gambar terbalik.Obscura sendiri dalam bahasa latin berarti
ruangan gelap. Meski prinsip
kamera sudah ditemukan pada waktu itu tetapi
hasilnya belum bisa dicetak seperti pada saat ini. Pada tahun 1660, seorang ilmuwan Inggris, Robert Boyle dibantu oleh Robert Hooke berhasil menciptakan kamera obscura jinjing lebih kecil dari kamera Obscura ciptaan Al-Haytham yang berukuran besar.
Pada tahun 1685, Johann Zahn menyempurnakan kamera obscura menjadi lebih kecil dan mudah dibawa. Selain itu juga memanfaatkan cermin dan lensa untuk menfokuskan gambar.
Perkembangan kamera semakin berarti setelah Joseph Nicephore Niepce pada tahun 1814 mencoba mencetak pada sebuah lempengan pewter (logam lunak campuran) dengan bitumen (semacam aspal). Saat terkena cahaya bitumen akan mengeras. Bagian yang tidak mengeras kemudian dilarutkan. Bagian inilah yang menjadi cikal bakal foto.
Pada tahun 1836, Louis Jacques Daguerre menyempurnakan proses cetak foto. Ia membuat lempengan tembaga menjadi lebih sensitif terhadap cahaya. Proses itu dinamakan daguerreotype.
Pada tahun 1840 William Fox Talbot menyempurnakan proses cetak foto yang
dikenal dengan Calotype. Baik Daguerre maupun Talbot menggunakan kamera yang
sedikit berbeda dari kamera Zahn. Mereka memakai lempengan logam atau lembaran
kertas yang diletakkan di depan layar bidik, merekam gambar, dan menggeser
lensa untuk menfokuskan gambar.
Era lempengan basah sebagai media rekam gambar kemudian disempurnakan dengan ditemukannya lempeng kering collodion pada tahun 1885 oleh Desire Van Monckhoven.
Era lempengan basah sebagai media rekam gambar kemudian disempurnakan dengan ditemukannya lempeng kering collodion pada tahun 1885 oleh Desire Van Monckhoven.
Kemajuan dunia fotografi makin sempurna dengan temuan Richard Leach Maddox yang
menggunakan gelatin kering pada tahun 1871. Lempengan kering ini lebih cepat
dan lebih bagus hasil cetakannya dibandingkan dengan lempengan basah. Pada era
ini, untuk pertama kalinya kamera bisa dibuat dalam ukuran genggam dan dapat
disimpan di dalam tas. Sejak itu berbagai desain kamera muncul, ada single atau
twin-lens reflexes, kamera berukuran besar, kamera saku, hingga kamera yang
bisa disatukan dengan arloji, topi dan sebagainya.
Setelah era Pelat, dunia fotografi semakin menyenangkan sejak ditemukan film topografik oleh George Eastman. Tahun 1885, Film fotografik masih menggunakan lembaran kertas, pada tahun yang sama berkembang lagi teknologi fotografi dengan film.
Eastman menciptakan kotak kamera dengan film seluloid yang bisa menampung 100 frame foto. Kamera berbentuk kotak dengan single focus dan single shutter ini dinamakan kodak. Kamera brownie karya Eastman sangat populer hingga tahun 1960-an. Industri kamera makin ramai sejak Jepang ikut memproduksi kamera dengan film 35 mm yang bermerk Canon 1936.
Sekitar tahun 1913, Oskar Barnack menggunakan film dengan ukuran 35 mm dan mengembangkan kamera berukuran kompak (kecil). Film ukuran 35 mm mendominasi pemakaian film kamera hingga era kamera digital.
Selain kamera yang memakai film, muncul juga kamera instan. Hasil fotonya bisa dilihat sesaat setelah pemotretan tanpa melalui proses pencucian dan pencetakan film. Kamera instan pertama kali dipopulerkan oleh polaroid dengan model 95. Kamera ini juga disebut kamera land karena diciptakan oleh Edwin Land.
Era analog mulai ditinggalkan dan digantikan dengan era kamera digital. Perbedaan antara kamera analog dan kamera digital adalah bahwa kamera digital tidak memerlukan film. Gambar yang direkam disimpan ke dalam kartu memori atau tempat penyimpanan pada kamera tersebut. Selain untuk membuat foto, kamera digital juga bisa untuk membuat video. Tentu saja hal ini membuat kamera analog tersingkir.
Selain pengoperasian lebih mudah, harga murah, proses lebih cepat, jangkauan juga lebar. Kamera digital semakin populer ketika menjadi fitur wajib di telepon selular dan hasil fotonya bisa langsung diunggah ke situs jejaring sosial dsb.
Setelah era Pelat, dunia fotografi semakin menyenangkan sejak ditemukan film topografik oleh George Eastman. Tahun 1885, Film fotografik masih menggunakan lembaran kertas, pada tahun yang sama berkembang lagi teknologi fotografi dengan film.
Eastman menciptakan kotak kamera dengan film seluloid yang bisa menampung 100 frame foto. Kamera berbentuk kotak dengan single focus dan single shutter ini dinamakan kodak. Kamera brownie karya Eastman sangat populer hingga tahun 1960-an. Industri kamera makin ramai sejak Jepang ikut memproduksi kamera dengan film 35 mm yang bermerk Canon 1936.
Sekitar tahun 1913, Oskar Barnack menggunakan film dengan ukuran 35 mm dan mengembangkan kamera berukuran kompak (kecil). Film ukuran 35 mm mendominasi pemakaian film kamera hingga era kamera digital.
Selain kamera yang memakai film, muncul juga kamera instan. Hasil fotonya bisa dilihat sesaat setelah pemotretan tanpa melalui proses pencucian dan pencetakan film. Kamera instan pertama kali dipopulerkan oleh polaroid dengan model 95. Kamera ini juga disebut kamera land karena diciptakan oleh Edwin Land.
Era analog mulai ditinggalkan dan digantikan dengan era kamera digital. Perbedaan antara kamera analog dan kamera digital adalah bahwa kamera digital tidak memerlukan film. Gambar yang direkam disimpan ke dalam kartu memori atau tempat penyimpanan pada kamera tersebut. Selain untuk membuat foto, kamera digital juga bisa untuk membuat video. Tentu saja hal ini membuat kamera analog tersingkir.
Selain pengoperasian lebih mudah, harga murah, proses lebih cepat, jangkauan juga lebar. Kamera digital semakin populer ketika menjadi fitur wajib di telepon selular dan hasil fotonya bisa langsung diunggah ke situs jejaring sosial dsb.
Teknik-teknik photografi
EXPOSURE / PENCAHAYAAN
Maksud photografi adalah pencahayaan, maka itu sangat penting kita memahami hal ini. Ada 3 faktor utama yang menentukan pencahayaan yaitu bukaan (aperture), kepantasan rana (shutter speed) dan sensitivitas sensor (ISO).
Jenis mode kamera
Lalu bagaimana dengan Auto mode, atau Program (P) mode atau scene modes seperti landscape mode (yang gambarnya seperti gunung) atau portrait mode (yang gambar wajah orang dari samping)? Adakah boleh memakai mode itu? Boleh saja kalau belum memahami pencahayaan, tapi bila telah memahami, automatik kita tidak perlu lagi menggunakan mode tersebut.
Aku sendiri pun suka pakai Aperture Priority, kerana aku boleh fokus supaya kelihatan kabur di latar belakang gambar kita.
Mempelajari
pencahayaan ibaratnya seperti belajar membawa kereta atau berenang.
Pertama kali kita cuba,memang merasa sukar, tapi kalau sudah memahami
serta praktikkan apa yang kita paham itu,InsyaAllah, segalanya akan
menjadi lebih mudah. Setelah memahami hal ini, hasil gambar akan lebih
konsisten.
EXPOSURE COMPENSATION / KOMPENSASI
Histogram:
Kalau kurva berwarna hitamnya banyak menumpuk di sebelah kanan seperti
ilustrasi di atas. Ini menandakan cahaya bergitu terang.
Selain itu, seringkali kita melihat di depan kita terdapat lebih banyak warna gelap daripada terang sehingga gambar menjadi lebih terang. Oleh itu, kita boleh menggunakan fungsi kompensasi pencahayaan.
Nilai kompensasi tergantung pada pandangan kita iaitu jenis pengukur cahaya /metering yang aktif dan jenis kamera.Bagi pendapat aku,kita cuba saja sampai menemukan pencahayaan yang optimal.
Dalam
gambar ini, kompensasi pencahayaan diperlukan kerana sebagian besar
area di dalam gambar berwarna gelap. Kalau tidak, wajah akan kelihatan
terang dan jubah akan berwarna abu-abu. Data Teknik: Av mode, f/4,
1/320 detik, ISO 200, EC -1
MENCEGAH gambar KABUR / GOYANG
Dua faktor gambar kabur atau goyang kerana salah fokus atau shutter speed kurang tinggi. Untuk masalah auto fokus, jangan merendahkan setting automatic focus, tapi pilihlah titik fokus tertentu. Bila subjek bergerak, maka gunakanlah continuous AF sehingga auto focus boleh mengikuti subjek.Untuk memastikan fokusnya benar-benar telah terkunci, kita akan terdengar bunyi “beep” atau lihat konfirmasi AF yang biasanya berbentuk bulatan atau kotak hijau di dalam jendela bidik / viewfinder.
Berkenaan dengan masalah shutter speed, untuk gambar subjek yang bergerak,kita perlu shutter speed yang cukup tinggi. Contoh: minimal 1/125 untuk gambar orang berjalan. Kalau lebih rendah, gambar akan kelihatan kabur.
Gambar #2
Keterangan
gambar #2: Untuk membekukan gambar si penari, aku menggunakan setting
AF-C (Nikon) / Ai Servo (Canon) supaya auto fokusnya tetap terkunci
pada si penari tersebut walaupun si penari itu bergerak dengan cepat.
Lalu aku juga menggunakan shutter speed yang cukup tinggi. Aku juga
menggunakan komposisi ekposur untuk mengkomponsasikan latar belakang
yang hitam pekat. Data Teknik: Aperture priority (Av) mode f/4, 1/200 detik, EC -1 1/3, AF-C, ISO 1250, 70mm.
DEPTH OF FIELD / KEDALAMAN FOKUS
Kedalaman fokus yang tipis membuat subjek lebih menonjol dan latar belakang menjadi blur sehingga berkesan artistik.
Di
gambar ini, aku menggunakan bukaan sangat besar, yaitu f/1.4 sehingga
depth of field sangat tipis, latar belakang menjadi sangat halus,
bahkan sebahagian besar rambut juga menjadi kabur. Selain itu, lensa
yang aku pakai juga cukup tajam atau halus. Data Teknik: f/1.4, 85mm,
1/1600 detik ISO 200
WHITE BALANCE
Contoh beberapa preset White Balance
Misalnya bila keadaan cahaya di lapangan mendung, maka pilihlah WB cloudy (yang bergambar seperti awan). Kalau di bawah bayangan, pilih Shade dan seterusnya. Kalau di dalam ruangan yang lampunya kuning, maka pakailah WB tungsten (yang gambarnya seperti bola lampu).
Bila ingin gambar kelihatan lebih hangat (kekuningan/jingga), maka set WB ke cloudy atau shade. Bila ingin gambar kelihatan lebih dingin / kebiruan, maka pilihlah WB tungsten.


